Udah lama gue gak bikin postingan di blog ini. Terakhir gue ngeblog itu tanggal 21 Oktober 2013 atau bertepatan dengan perayaan ke 413 Tokugawa Ieyasu mengalahkan klan-klan saingannya dalam Pertempuran Sekigahara dan memulai Keshogunan Tokugawa. Gue gak tau itu perayaan apaan yang jelas ada banyak halangan yang bikin gue mulai di cap sebagai blogger durhaka. Mulai dari sibuk dengan kerjaan, kadang gue juga disibukan dengan meladeni kalimat : "Rid, gimana kalo kamu kenalan sama cewek ini?"
Iya. Sejak mengalami kegagalan dalam mengarungi dunia per-LDR-an, gue jadi males meladeni yang namanya cinta-cintaan. Apalagi pacaran. Bukan karena trauma, tapi karena males aja menjalani sebuah perasaan yang berat sebelah. Perasaan yang terucap "kita memiliki rasa yang sama" namun kenyataannya tidak. Gue punya cinta buat dia, dia memiliki cinta yang sama sebelum akhirnya memudar tergusur rasa gak percaya. Masalah klasik yang gue dapat selama menjalani masa transisi LDR.
Awalnya gue yakin LDR pertama gue ini akan berjalan sukses, tapi kadang dunia gak adil. LDR pertama gue berakhir dengan kecewa. Nah, sejak berita kegagalan LDR gue ini tersebar seantero teman-teman dan keluarga, mulailah ada wacana untuk mengenali gue dengan beberapa cewek yang (menurut mereka) cocok buat gue. Apesnya, para kandidat yang dikenalkan ke gue jauh dari kriteria yang gue usung. Yup, jelek-jelek gini gue juga kudu selektif memilih cewek yang bakal jadi pendamping hidup gue nanti.
Setelah bangkit dari keterpurukan LDR, akhirnya ada salah satu teman SMA gue berkata : "Rid, gimana kalo kamu kenalan sama cewek ini?"
Salah satu kandidat yang menurut gue unik dan pertama kali gue alami datang dari teman SMA gue ini. Dia ngenalin cewek yang baru aja putus dari pacarnya. Ini jelas matching banget dengan kondisi gue yang baru aja gagal LDR. Kita ketemuan di sebuah tenda roti bakar. Tempatnya favorit gue kopdar dengan teman-teman SMA.
Awalnya gue merasa cocok karena kita memiliki kesamaan. Sama-sama pecinta Manchester United. Sebuah kecocokan yang gak penting-penting amat tapi lumayanlah buat jadi patokan. Hehehehe.
Sebagai sesama pecinta Manchester United, kita jadi gampang akrab. Terlalu mudah membuat topik pembicaraan karena kesamaan ini. Bisa ditebak, obrolan 30 menit awal kita habis buat ngebahas all about Manchester United. Ini aneh. Dimana-mana, pembahasan paling standard sepasang yang lagi ketemuan adalah menanyakan asal-usul diri masing-masing. Tapi kali ini, gue sama dia sibuk membahas kenapa Manchester United terpuruk di Liga Inggris tapi masih bisa bersaing di Liga Champions. Freak tapi asik.
Tapi, kita gak bisa terus-terusan membahas tentang klub favorit. Akhirnya dia membuka topik baru. Topik yang menurut gue gak seharusnya dibahas di moment pertemuan kayak gini.
Dia : "Kamu tau gak alasan aku putus sama dia?"
Gue : "Dia? Dia siapa ya?"
Dia : "Mantanku.."
Dari sini gue mencium aroma friendzone. Demi kelancaran obrolan topik kali ini, terpaksa gue ladeni. Iya. Terpaksa.
Gue : "Gak tau. Emang kenapa?"
Dia : "Aku diselingkuhin.."
Gue : "Klasik ya..."
Nah, dari sini dia mulai membahas mantannya itu. Dari yang awalnya kenapa dia bisa diputusin, sampe cerita tentang mantannya yang suka makan nasi padang. Dan yang lebih menohok lagi, mantannya ini minta balikan lagi ke dia, dan yang lebih super menohok lagi, dia minta solusi gimana cara agar dia bisa menerima lagi mantannya. Gue gak tau tujuan dia membahas tentang mantannya ke gue. Kalo dia mau
curhat tentang mantannya sambil minta solusi, gue rasa tempat yang cocok adalah di acara
Mamah dan A'a di Indosiar.
Oke, ini gak penting.
Menurut gue, cewek yang membahas mantan ke seorang cowok yang baru dia
kenal, apalagi cowoknya ini punya pengharapan lebih ke cewek tersebut, itu
hukumnya haram. Seandainya gue ketua MUI, yang namanya friendzone udah gue beri label
haram. Friendzone adalah zona yang sama berbahayanya dengan wilayah Segitiga Bermuda. Sebuah zona dimana kalo kita terjerumus di dalamnya maka kita sulit untuk keluar karena kita masih berharap kalo zona ini bakal bisa ditaklukin.
Awalnya, solusi yang pengen gue tawari ke dia adalah : "tinggalkanlah saja mantanmu dan mari kita merajut kisah yang baru."
Namun, solusi standar gue agar terlihat keren adalah : "gak ada salahnya kamu kembali ke dia, siapa tau kalian bisa membangun lagi hubungan yang selama ini gagal."
Kancut abis.
Ini sama aja kayak Jaap Stam yang ingin balik ke Manchester United tapi minta saran ke Alex Ferguson yang menjualnya karena kesal. Sebelum dia nanya gimana cara agar hubungan dia dengan mantannya awet sampe ke pernikahan, gue buru-buru menghindar secara perlahan.
Sebagai sesama pecinta Manchester United, tentu gue merasa nyambung. Tapi untuk urusan perasaan dia yang masih ada buat mantannya, ngobrol bareng gue bukan jalan yang tepat. Gue merasa belum bisa masuk ke wilayah friendzone, atau sebaiknya jangan.
Setelah pertemuan ini, gue mengambil sikap aman : balik kanan bubar jalan.
Say No to Friendzone.
#Ngek